Beberapa penelitian menunjukkan bahwa eksploitasi sumber daya alam dapat berujung pada kepunahan massal ke-6 di planet ini. Sebagai salah satu cara untuk mengatasinya, dibuatlah bangunan berkelanjutan dengan memakai konsep arsitektur hijau. Lalu, apa itu arsitektur hijau? Singkatnya, arsitektur hijau adalah sebuah konsep yang berusaha meminimalisasi perusakan terhadap lingkungan. Caranya adalah dengan membuat bangunan yang ramah lingkungan lewat pemanfaatan sumber energi dan sumber daya alam secara efisien. Meskipun memiliki embel-embel berkelanjutan, konsep arsitektur ini tidak berarti meninggalkan semua kemajuan yang telah kita nikmati di abad ke-21. Konsep ini justru merangkul teknologi baru untuk membawa dampak yang lebih positif kepada alam sekitar.
Prinsip Arsitektur Hijau dalam Bangunan
Saat dunia bergerak menuju masa depan yang berkelanjutan, arsitek di seluruh dunia berlomba menciptakan bangunan ramah lingkungan. Untuk mewujudkan hal tersebut, mereka merancang desain berdasarkan prinsip-prinsip arsitektur hijau berikut ini:
1. Gunakan Energi Secara Efisien
Prinsip pertama menekankan pentingnya efisiensi energi. Arsitek dapat menerapkannya dengan memanfaatkan sumber energi alternatif dan berkelanjutan seperti angin atau matahari. Selain itu, mereka bisa merancang bangunan agar aliran udara dan pencahayaan alami bekerja maksimal. Dengan cara ini, penghuni tidak perlu terlalu bergantung pada pemanas atau penyejuk udara.
2. Kurangi Pemakaian Air
Arsitektur hijau mendorong setiap bangunan untuk menjaga keseimbangan ekologis sekaligus melindungi kualitas air di sekitarnya. Para perancang biasanya merancang sistem yang menggunakan, memurnikan, lalu mendaur ulang air selama proses konstruksi berlangsung. Dengan langkah ini, penggunaan air menjadi lebih bijak dan efisien.
3. Manfaatkan Lahan Secara Efektif
Prinsip berikutnya berfokus pada pemanfaatan lahan secara optimal. Arsitek dapat mengembangkan bangunan secara kompak dan fungsional untuk menghindari degradasi lahan selama pembangunan. Lebih jauh lagi, strategi ini membantu melestarikan sumber daya alam, meningkatkan kualitas air dan udara, serta melindungi ekosistem dan keanekaragaman hayati.
4. Tekan Biaya Pembangunan dan Perawatan
Biaya operasional dan konstruksi sering kali menghabiskan anggaran besar dan memerlukan banyak material. Untuk menekannya, arsitek bisa memilih bahan bangunan dan teknik konstruksi yang lebih hemat biaya. Pendekatan ini bahkan mampu mengurangi pengeluaran hingga lebih dari setengahnya. Selain itu, mereka sebaiknya memprioritaskan penggunaan tanaman serta bahan daur ulang seperti batu atau logam.
5. Tingkatkan Kualitas Lingkungan dalam Ruangan
Bangunan hijau tidak hanya mengurangi limbah selama proses konstruksi, tetapi juga menjaga kualitas udara dan kenyamanan di dalam ruangan. Para arsitek biasanya merancang interior yang nyaman dengan sistem ventilasi yang efektif, sehingga penghuni dapat menikmati lingkungan yang sehat sekaligus menyenangkan.
Cara Sederhana Menerapkan Konsep Hijau di Rumah
Bangunan hijau atau berkelanjutan berarti bangunan yang mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas lingkungan di sekitarnya. Di Indonesia, kamu bisa menemukan contohnya pada Sampoerna Strategic Square dan Gedung DUSASPUN.
Kabar baiknya, kamu juga bisa menerapkan konsep ini di rumah sendiri. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa kamu lakukan:
- Gunakan material alami seperti batu bata, kayu dan bambu.
- Alih-alih memakai material plastik, manfaatkakan material daur ulang dalam ornamen dan furniture rumah.
- Tambah bukaan jendela untuk memaksimalkan udara dan pencahayaan alami.
- Perbanyakan vegetasi hijau di rumah. Bisa dengan menaruh tanaman dalam rumahย atau membuat urban farming dan taman vertikal.
- Kurangi penggunaan kaca karena efek rumah kaca memiliki dampak negatif bagi kelestarian alam.
- Pertimbangkan memakai panel surya sebagai sumber energi cadangan.
Setiap orang dapat memperoleh manfaat dari pengurangan konsumsi energi dan peningkatan ruang yang diciptakan oleh arsitektur hijau.


Leave a Reply