FILOSOFI DALAM ARSITEKTUR MASJID

Dalam Desain ada dua pola konsep desain secara umum yaitu berangkat dari desain dimulai dari bentuk mengikuti fungsi atau desain dimulai konsep filosofi.

Filosofi yang mendasari terciptanya bangunan tersebut. Melalui kajian ini, dengan acuan dasar pada sludi pustaka dan pengamatan hasil-hasil karya desain arsitektur, yang sudah ada dengan topik materi makna filosofi dalam karya desain arsilektur, memberikan gambaran tentang pentingnya konsep filosofi dalam suatu desain arsitektur, sehingga suatu karya arsitektur bukan hanya sekedar sebuah bangunan mati yang megah menjulang di atas tanah saja. Namun sebuah karya desain arsitektur yang mempunyai nilai dan makna filosofi yang tinggi.

Dalam desain Masjid banyak di jumpai filosofi dalam desain masjid yang menghasilkan karya Arsitektur yang baik dan dapat dinikmati keindahannya.

Masjid Seribu Bulan ( Lokasi Kota Purwokerto)

Sebuah masjid bertema seribu bulan sabit bakal dibangun di Purwokerto, Banyumas, Jateng. Masod Seribu Bulan di desain oleh Arsitek Ridwan Kamil.

Filosofi Masjid di ilhami dari Lailatul Qadar. Masjid ini terdiri atas tiga bangunan,masing-masing bangunan didesain menyerupai bulan sabit dengan jumlah banyak. “Ada garis melengkung, itu filosofinya.

Masjid Raya Sumatera Barat. (Kota Padang)

Masjid Raya Sumatera Barat ini beralamat di Jalan Khatib Sulaiman, Alai Parak Kopi, Kec. Padang Utara, Kota Padang. Masjid ini tak hanya sekadar menjadi tempat ibadah, namun arsitektur yang ada di dalamnya penuh makna yang dalam.Desain dari masjid ini dirancang oleh seorang arsitek bernama Rizal Muslimin, Apabila dilihat sekilas, masjid ini sangat berbeda dengan masjid pada umumnya. Di bagian atap masjid tidak terdapat kubah melainkan atap berbentuk gonjong.

Atap gonjong pada masjid ini juga merupakan akulturasi antara budaya Islam dan Minangkabau.

yang didasarkan pada tiga simbol kehidupan yaitu mata air, bulan sabit dan rumah gadang. Secara keseluruhan bangunan masjid dirancang dengan memadukan aspek tradisional masyarakat setempat dan kebudayaan Islam dengan konsep modern. Hal ini sejalan dengan falsafah adat masyarakat Minangkabau yaitu “Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah”. Falsafah ini berarti adat dan agama adalah dua hal yang senantiasa berjalan beriringan.

Empat sudut lancip di bagian atap masjid ini juga memiliki maknanya sendiri yang terinspirasi dari bentangan kain yang digunakan untuk meletakkan batu Hajar Aswad. Pada saat Kakbah selesai direnovasi, terjadi perselisihan di antara empat kabilah suku Quraisy mengenai siapa yang paling berhak untuk meletakkan kembali batu Hajar Aswad tersebut.

Maka dalam dunia Arsitektur Masjid telah mengalami tranformasi menuju masjid yang dengan konsep Filosofi yang beragam bentuk dengan lebih menarik dan indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *